“Gajiiiihhhh….. dimana kamu nak”
“Gajihhh…. Ibumu mencarimuuuuu”
“Gajiihhhhhh….. yuhuuuu… dimana engkau”
Hari sudah menjelang larut, namun Gajih, si anak gajah belum pulang ke rumah. Ibunya kebingungan mencarinya, teman-temannya juga mencarinya, namun tidak tahu Gajih ada dimana sekarang. Kasihan ibunya, kakinya masih tertatih-tatih sepulang dari mencari ranting-ranting kayu di hutan, ia terjatuh hingga berdarah. Dengan kaki yang masih terseok itu sang ibu berkeliling kampong sambil meneriakkan nama anaknya itu.
Tadi siang, sepulang dari sekolah, Gajih, Kancili, Rusahi dan Minky pulang bersama-sama. Mereka melewati hutan sambil bercerita, tertawa riang bersama. Mereka bercerita tentang sekolah tadi. Sampai akhirnya mereka terpisah. Mereka tidak sadar kalau Gajih masih tertinggal di hutan.
Gajih adalah seekor anak gajah yang periang, mudah bergaul, dan suka dengan keindahan warna-warni. Ayahnya harus bekerja untuk mencari makanan sedangkan ibunya bekerja mengumpulkan ranting-ranting pohon yang gugur di hutan. Gajih diajarkan untuk hidup mandiri oleh kedua orang tuanya. Orang tua Gajih selalu mengingatkannya untuk tetap berjalan bersama-sama saat di hutan, jangan jalan sendirian.
“Gajih, walaupun kamu sudah besar, tetapi jangan berjalan di hutan sendirian ya nak. Pulang lah segera setelah pulang dari sekolah, jangan terlalu lama bermain, nanti keburu malam, di hutan akan gelap”.
“iya buuu”
Gajih termasuk anak yang taat pada orang tua, hanya saja dia cepat lupa. Gajih termasuk anak yang tidak membantah orang tua, hanya saja dia anak yang kurang perhatian.
Gajih sudah biasa untuk mengurus dirinya sendiri, sehingga kadang-kadang dia tidak terlalu memperdulikan sekelilingnya. Gajih suka asyik sendiri dengan dunianya, sehingga dia bisa lupa kalau dia sedang berjalan bersama teman-temannya.
“Ehh.. mana Gajjiihh?”
“Gajiiihh.. cepatlahhh”
“Iyaaa temann… ini lucu sekaliii… bunga ini bagus sekali yaaa, wahh…”
“ayoolaahh cepattt”
“sebentar temann…. Ayolahh ke siniii, aku ingin menunjukkan sesuatuuu”
“Gajihhh… hari sudah sore, kita harus segera pulang ke rumah”.
Saat berjalan bersama di hutan, Gajih sering tertinggal di belakang, dan teman-temannya harus menunggunya. Ehh.. rupanya Gajih sedang mengejar kupu-kupu yang mempunyai sayap indah berwarna-warni. Kupu-kupu ini sangat menarik perhatiannya. Sayapnya berwarna merah orange berbintik hitam, lucu sekali. Sekali dua kali, teman-temannya masih sadar kalau mereka jauh terpisah, sehingga mereka harus menunggu Gajih, namun setelah beberapa kali, Gajih tertinggal di belakang dan teman-temannya tak menyadarinya.
Sesaat mereka memasuki perkampungan, mereka bertemu dengan ibunya Gajih, ibu Gajah, “anak-anak, apakah kalian bertemu dengan Gajih?”, Tanya ibu Gajah.
“uupsss…. eee… anuuu tante… ee… tadi diaa…”, jawab Minky.
“hahhh… jadi kalian tidak berjalan bersama dia?”
“ tadiii di hutannn…. pas kami melewati sunggaaiii… eee”.
“yasudahhh ayo kita mencarinyaa”
Mereka pun bergegas ke arah sungai di dalam hutan. Hari semakin gelap, ibu Gajah semakin kuatir akan anaknya itu. Suasana hutan semakin terasa kelam, suara burung hantu, suara srigala membuat merinding. Tetapi ibu Gajah tidak patah semangat, walaupun kakinya berdarah, jalannya masih terseok-seok, dengan gigih memasuki hutan dan mencari. Seolah tidak ada yang ditakuti oleh Ibu Gajah. Semangat ibu Gajah pun membuat Kancili, Rusahi dan Minky juga bersemangat mencari, mereka pun seperti pahlawan yang gagah berani memasuki hutan lebat yang hampir gelap.
“Gajiiihhhhh….”
“Gajiiihhh… dimana kamu naakkk”
“Gajihhh…”.
Hampir satu jam mereka mencari, berteriak, namun tak ada jawaban dari yang terdengar. Ibu Gajah pun tak bisa menahan hatinya yang sedih, takut kalau-kalau Gajih sudah dimangsa harimau atau binatang buas lainnya. Nadanya mulai bergetar. Teman-teman Gajih pun merasa bersalah telah meninggalkan Gajih sendirian, dan meminta maaf kepada ibu Gajah.
“Tante, maafkan kamiiii… kk..kkaamii.. cerobohh.. mennniinggalkan Gajih sendirian.. kk..kkammii ga tauu.. kalau Gajihhh masih tertinggal di belakang”, seru Rusahi.
“Gajih ituu.. hikss.. anak yang baik.., kalian juga anak yang baik. Kalian tidak salahh… hanya saja Gajih suka bermain sendiri… hiks.. anakkkuuuu Gajihhh.. dimanakah engkau sekaranggg….hiksss”.
“Ayoo MInky, kita cari lagi”, seru Rusahi.
Rusahi adalah seekor rusa yang mempunyai sikap perduli kepada teman, diala yang sering melihat apakah Gajih masih ikut mereka atau tidak. Tetapi ada saatnya mereka berjalan tanpa sadar kalau Gajih mengambil jalannya sendiri. Sekarangpun mereka bersedih karena belum menemukan Gajihh.
Kemudian Kancili dengan kecerdikan dan kecepatannya melompat, menemukan jejak Gajih, sepotong selendang berwarna pink, yang biasa dililitkan di leher Gajih.
“Heyy… teman-teman, lihat ini… lihat apa yang kutemukan. Ini selendangnya Gajih, bukan?”
“Iyaa.. lihat di sana… itu juga bukunya Gajih terjatuhhh…”
“jangan-jangaaaannn… huaaa..”
“hush… Minky, kamu jangan berpikiran buruk dong. Gajihh pasti masih hidup, dan dia tidak jauh dari sini”, seru Rusahi.
Kancili pun melompat ke sana dan ke mari. Dia mencari di balik pohon besar, di dalam gua kecil, di lubang tanah, tetapi belum juga menemukan dimana Gajih. Dan tiba-tiba terdengar suatu suara nyanyian kecil, “lalala..la..lalala..laa… haleluyaa… puji Tuhan”.
“heyyy.. sstttt, dengar… dengar suara itu…”
“itu suara anakkkuuu… Gajjiihhhhhh..”
Mereka pun mencari sumber asal dari suara itu. Akhirnya mereka menemukan Gajih yang tertambat pada sebuah pohon besar, tidak jauh dari tempat mereka mencari tadi. Tubuhnya tersangkut dan dia tidak dapat melepaskan dirinya dari dahan pohon kayu itu.
“Gajihhhh….hiksss….. kamu ga papa nakkk…”
“Ibuuuu…. Ibuuuu… hikss.. maafkan aku buuu, aku tersangkuuutt, aku ga bisa pulangg. Tolongin aku buuu”
“iyaaa nak, ibu mengertiii”.
“Gajihhh… kamu ga apa-apa kann? Kami akan segera menolongmu, bertahanlah”
Akhirnya Rusahi, Kancili dan Minky beserta ibu Gajah berhasil mengeluarkan Gajih dari jerat dahan pohon.
“Wahh… Gajihh.. aku salut padamuu, walaupun tubuhmu tersangkut di pohon, namun kamu masih bisa bernyanyi. Ngomong-ngomong koqq.. bisa sihh kamu sampai terjepit di dahan pohon itu?”, seru Minky.
“Hai Minky, dia lagi bersedihhh”, kata Kancili.
“Dari tadi aku sudah menangis kesakitan , tetapi tidak ada yang menolongku. Aku berdoa kepada Tuhan Yesus supaya ada yang menolongku, aku bernyanyi memuji Tuhan saja supaya aku tidak bersedih. Ehhh… kalian datang … makasih yaaa teman-temann, maafkan aku yaaa… aku kurang memperhatikan kaliaannn.. aku asyik melihat kupu-kupu yang indah. Aku mengejarnyaaa… dan aku lupa kalau aku sudah jauh dari kalian, dan aku terjatuh sampai tersangkut di sini. Tuhaaannn… ampunilah aku yang tidak perhatian kepada teman-temanku. Teman-temaannn… kaliaannn mau kan memaafkan akuuu”
“Iyaa Gajihh, kami sudah memaafkanmu. Kami sedang kamu baik-baik saja”.
“ Ibuuuu… aku janjiiii aku akan turuti nasehat ibuu.. hikss… Aku sayang ibuuu…teman-teman .. aku juga mau memperhatikan kalian”.
“Iya nak, ibu tau kamu anak yang baik”
“Akuu sayang ibuu.. aku sayang teman-teman”
Teman-teman, kita harus saling memperhatikan yaaa… kita ga dapat hidup sendirian, kita butuh orang lain. Yukk kita hidup saling sayang-menyayangi.
No comments:
Post a Comment