“Gajiiiihhhh….. dimana kamu nak”
“Gajihhh…. Ibumu mencarimuuuuu”
“Gajiihhhhhh….. yuhuuuu… dimana engkau”
Hari sudah menjelang larut, namun Gajih, si anak gajah belum pulang ke rumah. Ibunya kebingungan mencarinya, teman-temannya juga mencarinya, namun tidak tahu Gajih ada dimana sekarang. Kasihan ibunya, kakinya masih tertatih-tatih sepulang dari mencari ranting-ranting kayu di hutan, ia terjatuh hingga berdarah. Dengan kaki yang masih terseok itu sang ibu berkeliling kampong sambil meneriakkan nama anaknya itu.
Tadi siang, sepulang dari sekolah, Gajih, Kancili, Rusahi dan Minky pulang bersama-sama. Mereka melewati hutan sambil bercerita, tertawa riang bersama. Mereka bercerita tentang sekolah tadi. Sampai akhirnya mereka terpisah. Mereka tidak sadar kalau Gajih masih tertinggal di hutan.
Gajih adalah seekor anak gajah yang periang, mudah bergaul, dan suka dengan keindahan warna-warni. Ayahnya harus bekerja untuk mencari makanan sedangkan ibunya bekerja mengumpulkan ranting-ranting pohon yang gugur di hutan. Gajih diajarkan untuk hidup mandiri oleh kedua orang tuanya. Orang tua Gajih selalu mengingatkannya untuk tetap berjalan bersama-sama saat di hutan, jangan jalan sendirian.
“Gajih, walaupun kamu sudah besar, tetapi jangan berjalan di hutan sendirian ya nak. Pulang lah segera setelah pulang dari sekolah, jangan terlalu lama bermain, nanti keburu malam, di hutan akan gelap”.
“iya buuu”
Gajih termasuk anak yang taat pada orang tua, hanya saja dia cepat lupa. Gajih termasuk anak yang tidak membantah orang tua, hanya saja dia anak yang kurang perhatian.
Gajih sudah biasa untuk mengurus dirinya sendiri, sehingga kadang-kadang dia tidak terlalu memperdulikan sekelilingnya. Gajih suka asyik sendiri dengan dunianya, sehingga dia bisa lupa kalau dia sedang berjalan bersama teman-temannya.
“Ehh.. mana Gajjiihh?”
“Gajiiihh.. cepatlahhh”
“Iyaaa temann… ini lucu sekaliii… bunga ini bagus sekali yaaa, wahh…”
“ayoolaahh cepattt”
“sebentar temann…. Ayolahh ke siniii, aku ingin menunjukkan sesuatuuu”
“Gajihhh… hari sudah sore, kita harus segera pulang ke rumah”.
Saat berjalan bersama di hutan, Gajih sering tertinggal di belakang, dan teman-temannya harus menunggunya. Ehh.. rupanya Gajih sedang mengejar kupu-kupu yang mempunyai sayap indah berwarna-warni. Kupu-kupu ini sangat menarik perhatiannya. Sayapnya berwarna merah orange berbintik hitam, lucu sekali. Sekali dua kali, teman-temannya masih sadar kalau mereka jauh terpisah, sehingga mereka harus menunggu Gajih, namun setelah beberapa kali, Gajih tertinggal di belakang dan teman-temannya tak menyadarinya.
Sesaat mereka memasuki perkampungan, mereka bertemu dengan ibunya Gajih, ibu Gajah, “anak-anak, apakah kalian bertemu dengan Gajih?”, Tanya ibu Gajah.
“uupsss…. eee… anuuu tante… ee… tadi diaa…”, jawab Minky.
“hahhh… jadi kalian tidak berjalan bersama dia?”
“ tadiii di hutannn…. pas kami melewati sunggaaiii… eee”.
“yasudahhh ayo kita mencarinyaa”
Mereka pun bergegas ke arah sungai di dalam hutan. Hari semakin gelap, ibu Gajah semakin kuatir akan anaknya itu. Suasana hutan semakin terasa kelam, suara burung hantu, suara srigala membuat merinding. Tetapi ibu Gajah tidak patah semangat, walaupun kakinya berdarah, jalannya masih terseok-seok, dengan gigih memasuki hutan dan mencari. Seolah tidak ada yang ditakuti oleh Ibu Gajah. Semangat ibu Gajah pun membuat Kancili, Rusahi dan Minky juga bersemangat mencari, mereka pun seperti pahlawan yang gagah berani memasuki hutan lebat yang hampir gelap.
“Gajiiihhhhh….”
“Gajiiihhh… dimana kamu naakkk”
“Gajihhh…”.
Hampir satu jam mereka mencari, berteriak, namun tak ada jawaban dari yang terdengar. Ibu Gajah pun tak bisa menahan hatinya yang sedih, takut kalau-kalau Gajih sudah dimangsa harimau atau binatang buas lainnya. Nadanya mulai bergetar. Teman-teman Gajih pun merasa bersalah telah meninggalkan Gajih sendirian, dan meminta maaf kepada ibu Gajah.
“Tante, maafkan kamiiii… kk..kkaamii.. cerobohh.. mennniinggalkan Gajih sendirian.. kk..kkammii ga tauu.. kalau Gajihhh masih tertinggal di belakang”, seru Rusahi.
“Gajih ituu.. hikss.. anak yang baik.., kalian juga anak yang baik. Kalian tidak salahh… hanya saja Gajih suka bermain sendiri… hiks.. anakkkuuuu Gajihhh.. dimanakah engkau sekaranggg….hiksss”.
“Ayoo MInky, kita cari lagi”, seru Rusahi.
Rusahi adalah seekor rusa yang mempunyai sikap perduli kepada teman, diala yang sering melihat apakah Gajih masih ikut mereka atau tidak. Tetapi ada saatnya mereka berjalan tanpa sadar kalau Gajih mengambil jalannya sendiri. Sekarangpun mereka bersedih karena belum menemukan Gajihh.
Kemudian Kancili dengan kecerdikan dan kecepatannya melompat, menemukan jejak Gajih, sepotong selendang berwarna pink, yang biasa dililitkan di leher Gajih.
“Heyy… teman-teman, lihat ini… lihat apa yang kutemukan. Ini selendangnya Gajih, bukan?”
“Iyaa.. lihat di sana… itu juga bukunya Gajih terjatuhhh…”
“jangan-jangaaaannn… huaaa..”
“hush… Minky, kamu jangan berpikiran buruk dong. Gajihh pasti masih hidup, dan dia tidak jauh dari sini”, seru Rusahi.
Kancili pun melompat ke sana dan ke mari. Dia mencari di balik pohon besar, di dalam gua kecil, di lubang tanah, tetapi belum juga menemukan dimana Gajih. Dan tiba-tiba terdengar suatu suara nyanyian kecil, “lalala..la..lalala..laa… haleluyaa… puji Tuhan”.
“heyyy.. sstttt, dengar… dengar suara itu…”
“itu suara anakkkuuu… Gajjiihhhhhh..”
Mereka pun mencari sumber asal dari suara itu. Akhirnya mereka menemukan Gajih yang tertambat pada sebuah pohon besar, tidak jauh dari tempat mereka mencari tadi. Tubuhnya tersangkut dan dia tidak dapat melepaskan dirinya dari dahan pohon kayu itu.
“Gajihhhh….hiksss….. kamu ga papa nakkk…”
“Ibuuuu…. Ibuuuu… hikss.. maafkan aku buuu, aku tersangkuuutt, aku ga bisa pulangg. Tolongin aku buuu”
“iyaaa nak, ibu mengertiii”.
“Gajihhh… kamu ga apa-apa kann? Kami akan segera menolongmu, bertahanlah”
Akhirnya Rusahi, Kancili dan Minky beserta ibu Gajah berhasil mengeluarkan Gajih dari jerat dahan pohon.
“Wahh… Gajihh.. aku salut padamuu, walaupun tubuhmu tersangkut di pohon, namun kamu masih bisa bernyanyi. Ngomong-ngomong koqq.. bisa sihh kamu sampai terjepit di dahan pohon itu?”, seru Minky.
“Hai Minky, dia lagi bersedihhh”, kata Kancili.
“Dari tadi aku sudah menangis kesakitan , tetapi tidak ada yang menolongku. Aku berdoa kepada Tuhan Yesus supaya ada yang menolongku, aku bernyanyi memuji Tuhan saja supaya aku tidak bersedih. Ehhh… kalian datang … makasih yaaa teman-temann, maafkan aku yaaa… aku kurang memperhatikan kaliaannn.. aku asyik melihat kupu-kupu yang indah. Aku mengejarnyaaa… dan aku lupa kalau aku sudah jauh dari kalian, dan aku terjatuh sampai tersangkut di sini. Tuhaaannn… ampunilah aku yang tidak perhatian kepada teman-temanku. Teman-temaannn… kaliaannn mau kan memaafkan akuuu”
“Iyaa Gajihh, kami sudah memaafkanmu. Kami sedang kamu baik-baik saja”.
“ Ibuuuu… aku janjiiii aku akan turuti nasehat ibuu.. hikss… Aku sayang ibuuu…teman-teman .. aku juga mau memperhatikan kalian”.
“Iya nak, ibu tau kamu anak yang baik”
“Akuu sayang ibuu.. aku sayang teman-teman”
Teman-teman, kita harus saling memperhatikan yaaa… kita ga dapat hidup sendirian, kita butuh orang lain. Yukk kita hidup saling sayang-menyayangi.
Wednesday, September 15, 2010
Wednesday, April 21, 2010
Kelahiran Yesus, Raja Mulia
Pada suatu kali, Gerombolan orang majus sedang bersiap-siap mengunjungi bayi Yesus. Wow.. mereka banyak sekali. Mereka datang dari timur, mereka adalah orang-orang pintar, ada ilmuwan, ada pedagang, dokter. Mereka jago membaca peta dan bintang. Orang majus juga membawa budak-budak untuk menjadi pengawal supaya tidak dirampok di tengah jalan. Perjalanan menuju Betlehem adalah jauh sekali. Jadi mereka harus menyiapkan perbekalan mereka. Bawa makanan, minuman, dan peralatan perang juga, mana tau mereka disergap musuh di jalan.
“Hayoo…. Kibin, kamu kemana aja, apakah kamu sudah menyiapkan makanan kesukaanku? Obat tidurku? Buku-buku? Kompas? Tombakku, baju-bajuku?”
“Sudah Tuan Chang, hamba sudah menyiapkan semuanya”, seru Kibin. “Tuan sudah ditunggu oleh rombongan di halaman”.
“Mari kita berangkat Kibin, jangan sia-siakan waktu, Sang Raja sudah menunggu kita. Kita tidak punya waktu lebih lama lagi. Perjalanan pasti lama sekali”. Tuan Chang beserta teman-temannya pun berangkat menuju Bethlehem. Mereka harus menempuh perjalanan darat dan laut yang sangat jauh sekali. Mereka harus melawan ombak besar di lautan beserta para bajak laut yang iseng. Belum lagi mereka harus melewati para perompak padang gurun. Tetapi mereka bukanlah orang-orang yang mudah menyerah, mereka tetap maju terus. Mereka punya satu tujuan, yaitu menemui Bayi Yesus, Sang Raja yang telah lama dinanti.
Orang-orang majus berasal dari Timur, Asia. Nenek moyang mereka sudah sering berdagang ke Yerusalem pada zaman Raja Daud. Apa saja yang dilihat dan dialami nenek moyang mereka diceritakan turun-temurun kepada mereka, sehingga anak cucu mereka bisa tau kabar tentang kelahiran seoarang Raja Mulia, Yesus.
“Turunkan jangkar, kita sudah sampai sekarang”. Tidak terasa waktu setahun lebih telah terlewatkan. Tetapi mereka belum benar-benar sampai. Mereka harus berjalan lagi… lagi dan lagi. Tidak mudah untuk memimpin rombongan yang besar itu. Para pengawal juga harus diperhatikan supaya tidak ada yang memberontak.
“Heyy… lihat, bintang yang terang itu. Kita harus berjalan mengikuti arah bintang itu. Hayoo jangan malas, kita hampir sampai.” Merekapun berjalan terus berjalan mengikuti arah bintang.
“Waduhh… masih jauh yaa, pegel nehhh”
“Dasar kamu, ngomel terus kapan dewasanyaaa”.
“Pren, istirahat dulu, ngosh… ngoshan nehhh”.
“Yaudah kita istirahat dulu, hei… siapa yang bertugas jaga malem nih, jangan sampai emas yang kita bawa dirampok orang. Kita sudah berjalan sejauh ini. Aku tidur dulu yaaa, cu gut nait.”
“Ohh… aku kangen mama”
“Sama nih, biasannya kan mama buatin susu coklat”
“Woiii… bisa diem ga sehhh udah malem nehhh, besok kita harus jalan lagi neh… apa lu mau gendong gw besok”
“ Tak gendong… kemana-mana…”.
“Beriiiisssiiiikkkkkk…”
Tettttttttttt…… sirene panjang harus dibunyikan, tanda waktunya tidur.
“Tok.. tok…tok… Good morning…. Permisi Tuan-tuan, waktunya Sarapan pagi”
“Kibin, ga tau ya.. aku masih ngantuk? Huaahh…”
“Maaf Tuan, tapi kita harus segera berangkat”
Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat, beramai-ramai. Ga nyampe-nyampe juga. Pasukan pada kelelahan, belum lagi kuli yang bertugas mengangkat emas, mur dan kemenyan. Banyak sekali yang mereka bawa. Pasti perlu usaha besar.
Akhirrrrrnyaaaa…. Nyampe juga. Mereka berhenti tepat di bawah bintang terang itu. Upsss…. Para pengawal Herodes dah nyegat mereka. Ooo…ooww, troubles come.
“Berhentiiii!! Apa-apaan ni, rame-rame, kalian mau demo yaaa? Banyak sekali emas, mur kemenyan, kalian perampok yaaa…. Kalian kami tangkap!!”
Semua rombongan di bawa ke istana Herodes. Mereka harus diwawancarai oleh Herodes dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa jiwa.
“Mau apa kalian dating ke negeri ini?” Tanya Herodes
“Kami hendak menemui Raja Mulia yang baru lahir di kota Bethlehem”
“Hahh.. Raja? Akulah raja di sini, apa kalian mau mati membusuk di penjara?
“Bukan begitu Tuan Raja, tidakkah Tuan tau Yesus, Sang Raja Mulia telah lahir di kota ini?
“Hahh… ga tau tuhh”
(bisik bisk..) ”Ihkhh.. ni raja ga gaul banget deh”
“Ok, kalian kulepaskan, tapi jika kalian dah ketemu raja yg kalian maksud itu, lapor sama aku yaaa… supaya aku bisa dating menyembahnya juga. Kan ga enak sesame raja ga saling ngunjungin”.
“Ok deh Tuanku Raja, kami minta diri”
Akhirnya mereka dilepas oleh Herodes. Mengikuti arah bintang lagi. Eh… ketemu dengan gembala di padang. Nanya-nanya sama gembala, dan akhirnya gembala membawa rombongan itu ke rumahnya.
“Hahhh…. Ga salah nehhh… koq Raja lahir di rumah gembala, ini mah kandang.”
“Sttt…. Lu yakin Chang? Kita ga salah alamat neh?”
“Diem luu… ga liat tuh bintang terang yg kita ikutin berhenti di atas rumah ini. Lu sendiri kan yang ngitungin jarak, kalkulus, sudut elevasi. Udah deh.. masuk aja. Kita liat apa nih gembala nipu kita apa ga”.
Akhirnya mereka masuk dan melihat Bayi Yesus, Maria dan Yusuf ada di situ. Spontan mereka semua sujud menyembah Bayi Yesus nan mungil dan berkharisma itu. Rombongan lain yang ga muat masuk ke dalam rumah juga sujud di luar rumah. Wihhh.. hebohhh… tetangga juga pada celingak-celinguk liat aya naon, what happening. Persembahan pun dikeluarkan diletakkan dihadapan Raja Mulia, Yesus Kristus. Kelelahan mereka pun sirna ketika melihat Sang Bayi. Air mata pun menitik.
Adik-adik, Yesus telah lahir buat kamu dan saya. Mari bawa persembahanmu yang terbaik kepadaNya. Yesus sayang kepada semua anak-anak. (iyut)
“Hayoo…. Kibin, kamu kemana aja, apakah kamu sudah menyiapkan makanan kesukaanku? Obat tidurku? Buku-buku? Kompas? Tombakku, baju-bajuku?”
“Sudah Tuan Chang, hamba sudah menyiapkan semuanya”, seru Kibin. “Tuan sudah ditunggu oleh rombongan di halaman”.
“Mari kita berangkat Kibin, jangan sia-siakan waktu, Sang Raja sudah menunggu kita. Kita tidak punya waktu lebih lama lagi. Perjalanan pasti lama sekali”. Tuan Chang beserta teman-temannya pun berangkat menuju Bethlehem. Mereka harus menempuh perjalanan darat dan laut yang sangat jauh sekali. Mereka harus melawan ombak besar di lautan beserta para bajak laut yang iseng. Belum lagi mereka harus melewati para perompak padang gurun. Tetapi mereka bukanlah orang-orang yang mudah menyerah, mereka tetap maju terus. Mereka punya satu tujuan, yaitu menemui Bayi Yesus, Sang Raja yang telah lama dinanti.
Orang-orang majus berasal dari Timur, Asia. Nenek moyang mereka sudah sering berdagang ke Yerusalem pada zaman Raja Daud. Apa saja yang dilihat dan dialami nenek moyang mereka diceritakan turun-temurun kepada mereka, sehingga anak cucu mereka bisa tau kabar tentang kelahiran seoarang Raja Mulia, Yesus.
“Turunkan jangkar, kita sudah sampai sekarang”. Tidak terasa waktu setahun lebih telah terlewatkan. Tetapi mereka belum benar-benar sampai. Mereka harus berjalan lagi… lagi dan lagi. Tidak mudah untuk memimpin rombongan yang besar itu. Para pengawal juga harus diperhatikan supaya tidak ada yang memberontak.
“Heyy… lihat, bintang yang terang itu. Kita harus berjalan mengikuti arah bintang itu. Hayoo jangan malas, kita hampir sampai.” Merekapun berjalan terus berjalan mengikuti arah bintang.
“Waduhh… masih jauh yaa, pegel nehhh”
“Dasar kamu, ngomel terus kapan dewasanyaaa”.
“Pren, istirahat dulu, ngosh… ngoshan nehhh”.
“Yaudah kita istirahat dulu, hei… siapa yang bertugas jaga malem nih, jangan sampai emas yang kita bawa dirampok orang. Kita sudah berjalan sejauh ini. Aku tidur dulu yaaa, cu gut nait.”
“Ohh… aku kangen mama”
“Sama nih, biasannya kan mama buatin susu coklat”
“Woiii… bisa diem ga sehhh udah malem nehhh, besok kita harus jalan lagi neh… apa lu mau gendong gw besok”
“ Tak gendong… kemana-mana…”.
“Beriiiisssiiiikkkkkk…”
Tettttttttttt…… sirene panjang harus dibunyikan, tanda waktunya tidur.
“Tok.. tok…tok… Good morning…. Permisi Tuan-tuan, waktunya Sarapan pagi”
“Kibin, ga tau ya.. aku masih ngantuk? Huaahh…”
“Maaf Tuan, tapi kita harus segera berangkat”
Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat, beramai-ramai. Ga nyampe-nyampe juga. Pasukan pada kelelahan, belum lagi kuli yang bertugas mengangkat emas, mur dan kemenyan. Banyak sekali yang mereka bawa. Pasti perlu usaha besar.
Akhirrrrrnyaaaa…. Nyampe juga. Mereka berhenti tepat di bawah bintang terang itu. Upsss…. Para pengawal Herodes dah nyegat mereka. Ooo…ooww, troubles come.
“Berhentiiii!! Apa-apaan ni, rame-rame, kalian mau demo yaaa? Banyak sekali emas, mur kemenyan, kalian perampok yaaa…. Kalian kami tangkap!!”
Semua rombongan di bawa ke istana Herodes. Mereka harus diwawancarai oleh Herodes dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyiksa jiwa.
“Mau apa kalian dating ke negeri ini?” Tanya Herodes
“Kami hendak menemui Raja Mulia yang baru lahir di kota Bethlehem”
“Hahh.. Raja? Akulah raja di sini, apa kalian mau mati membusuk di penjara?
“Bukan begitu Tuan Raja, tidakkah Tuan tau Yesus, Sang Raja Mulia telah lahir di kota ini?
“Hahh… ga tau tuhh”
(bisik bisk..) ”Ihkhh.. ni raja ga gaul banget deh”
“Ok, kalian kulepaskan, tapi jika kalian dah ketemu raja yg kalian maksud itu, lapor sama aku yaaa… supaya aku bisa dating menyembahnya juga. Kan ga enak sesame raja ga saling ngunjungin”.
“Ok deh Tuanku Raja, kami minta diri”
Akhirnya mereka dilepas oleh Herodes. Mengikuti arah bintang lagi. Eh… ketemu dengan gembala di padang. Nanya-nanya sama gembala, dan akhirnya gembala membawa rombongan itu ke rumahnya.
“Hahhh…. Ga salah nehhh… koq Raja lahir di rumah gembala, ini mah kandang.”
“Sttt…. Lu yakin Chang? Kita ga salah alamat neh?”
“Diem luu… ga liat tuh bintang terang yg kita ikutin berhenti di atas rumah ini. Lu sendiri kan yang ngitungin jarak, kalkulus, sudut elevasi. Udah deh.. masuk aja. Kita liat apa nih gembala nipu kita apa ga”.
Akhirnya mereka masuk dan melihat Bayi Yesus, Maria dan Yusuf ada di situ. Spontan mereka semua sujud menyembah Bayi Yesus nan mungil dan berkharisma itu. Rombongan lain yang ga muat masuk ke dalam rumah juga sujud di luar rumah. Wihhh.. hebohhh… tetangga juga pada celingak-celinguk liat aya naon, what happening. Persembahan pun dikeluarkan diletakkan dihadapan Raja Mulia, Yesus Kristus. Kelelahan mereka pun sirna ketika melihat Sang Bayi. Air mata pun menitik.
Adik-adik, Yesus telah lahir buat kamu dan saya. Mari bawa persembahanmu yang terbaik kepadaNya. Yesus sayang kepada semua anak-anak. (iyut)
Tuesday, June 9, 2009
Dua Bersaudara
Kejadian 4:1-16
Tuhan mengirimkan Adam dan Hawa pada suatu taman, namanya Taman Eden. Tapi sayangnyaa.. mereka harus bekerja untuk makanan yang akan mereka makan dan pakaian yang akan mereka pakai. Tuhan hanya menyediakan taman saja.
Oleh karena kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, semua anak- cucu keturunan Adam dan Hawa juga harus bekerja untuk makanan dan pakaian mereka. Walaupun demikian Tuhan mengasihi kita lebih dari apa yang kita tau, dan berkatNya selalu beserta kita.
Karena dosa juga maka kita akan mengahadapi masalah-masalah dalam hidup, kadang masalah yang besar, kadang-kadang masalah kecil juga. Dosa selalu membawa masalah. Makanya… kita jangan berbuat dosa lagi ya!
Walaupun Adam dan Hawa telah berdosa, Tuhan tetep mengasihi mereka dan Tuhan memberikan seorang bayi kepada mereka. Mmm…. Waktu Hawa melahirkan, ga ditolongin ama dokter dan suster (hehe… tentu saja karna dokter dan suster blum lahir…hihihihi). Tuhan sendiri yang jadi bidannya.
Hwaaahh…. Uekkk…ooooeekkk…. Bayi pertama lahir, seorang anak laki-laki yang ganteng diberi nama Kain. Dan beberapa tahun kemudian seorang bayi laki-laki lagi lahir, diberi nama Habel. Mereka bertumbuh dan menjadi dewasa. Kain, si abang, menjadi petani dan si adik, Habel menjadi gembala kambing dan domba.
Suatu hari, Kain ingin bersyukur kepada Tuhan dan membawa persembahannya kepada Tuhan seperti hasil bumi, seperti padi, gandum, dll. Persembahan adalah suatu pemberian yang kita bawa kepada Tuhan, sesuatu yang terbaik yang kita suka, yang paling kita jaga karna sangat berharga bagi kita. Tentu saja persembahan adalah sesuatu yang terbaik dari yang kita punya.
Habel juga membawa persembahannya kepada Tuhan. Habel membawa kambing dombanya dan membawa domba muda yang lahir pertama, yang tidak cacat.
Tuhan sangat senang dengan persembahan Habel. Karena TUhan melihat Habel ingin sekali menyenangkan Tuhan dengan membawa persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Kain marah, karena Tuhan tidak menerima persembahannya. Mukanya muram dan hatinya panas.
Padahal Tuhan mau menghibur Kain, Tuhan tetap mengasihi Kain. Tetapi hati Kain dipenuhi kebencian terhadap adiknya, Habel. Kain pikir, Tuhan lebih mengasihi Habel daripada dirinya. Kain menyusun siasat untuk membunuh Habel, Kain tidak perduli dengan suara Tuhan itu.
Suatu hari, Kain mengajak Habel untuk jalan-jalan ke padang. Habel sama sekali tidak curiga akan niat jahat Kain tersebut. Dengan senang hati Habel pergi bersama dengan Kain.
“Habel, yuk kita jalan-jalan, hayolah temeni aku”
“Ayo”
Waktu mereka berjalan, Kain sudah mulai berawas-awas, celingak-celinguk, lihat ke sana ke sini, apakah ada orang. Ketika dilihatnya tidak ada orang, kemudian diambilnya batu dan “dug… dug..”.
“Auww… Bang apa yang kau lakukan… Akhhh…”. Teriak Habel sampai ia mati. Kain membunuh adiknya itu.
Kemudian Tuhan Allah mendapati Kain sedang bekerja di bawah sinar matahari, “Kain…, mana adikmu?”.
“Mana aku tau Tuhan. Emangnya aku penjaga adikku?” jawab Kain kepada Tuhan. Tetapi Tuhan mengetahui perbuatan jahat yang telah diperbuat Kain.
“Aku melihat darah adikmu. Kamu telah menumpahkan darah adikmu, tanah tidak akan memberimu panen lagi. Kamu akan mengembara untuk mendapatkan makananmu”, kata Tuhan.
“Tuhan, kenapa hukumannya terlalu berat bagiku? Nanti orang pasti akan membunuhku kalau mereka tau perbuatanku. Aku nanti akan selalu berlari”, seru Kain.
"Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kata Tuhan. Kemudian Tuhan memberi ‘tanda’ untuk melindungi Kain supaya tidak ada yang boleh membunuh Kain.
Kain bersedih, Kain harus berpisah dari keluarga dan rumahnya. Karena kejahatan yang dilakukan Kain, Adam dan Hawa bukan saja kehilangan Habel tetapi harus kehilangan 2 anak sekaligus.
Hal terburuknya adalah Tuhan tidak lagi bisa bercakap-cakap dengan Tuhan. Kain harus tinggal jauh dari keluarga dan tinggal di tanah Nod. Andai saja Kain mendengarkan suara Tuhan…
Tuhan mengirimkan Adam dan Hawa pada suatu taman, namanya Taman Eden. Tapi sayangnyaa.. mereka harus bekerja untuk makanan yang akan mereka makan dan pakaian yang akan mereka pakai. Tuhan hanya menyediakan taman saja.
Oleh karena kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, semua anak- cucu keturunan Adam dan Hawa juga harus bekerja untuk makanan dan pakaian mereka. Walaupun demikian Tuhan mengasihi kita lebih dari apa yang kita tau, dan berkatNya selalu beserta kita.
Karena dosa juga maka kita akan mengahadapi masalah-masalah dalam hidup, kadang masalah yang besar, kadang-kadang masalah kecil juga. Dosa selalu membawa masalah. Makanya… kita jangan berbuat dosa lagi ya!
Walaupun Adam dan Hawa telah berdosa, Tuhan tetep mengasihi mereka dan Tuhan memberikan seorang bayi kepada mereka. Mmm…. Waktu Hawa melahirkan, ga ditolongin ama dokter dan suster (hehe… tentu saja karna dokter dan suster blum lahir…hihihihi). Tuhan sendiri yang jadi bidannya.
Hwaaahh…. Uekkk…ooooeekkk…. Bayi pertama lahir, seorang anak laki-laki yang ganteng diberi nama Kain. Dan beberapa tahun kemudian seorang bayi laki-laki lagi lahir, diberi nama Habel. Mereka bertumbuh dan menjadi dewasa. Kain, si abang, menjadi petani dan si adik, Habel menjadi gembala kambing dan domba.
Suatu hari, Kain ingin bersyukur kepada Tuhan dan membawa persembahannya kepada Tuhan seperti hasil bumi, seperti padi, gandum, dll. Persembahan adalah suatu pemberian yang kita bawa kepada Tuhan, sesuatu yang terbaik yang kita suka, yang paling kita jaga karna sangat berharga bagi kita. Tentu saja persembahan adalah sesuatu yang terbaik dari yang kita punya.
Habel juga membawa persembahannya kepada Tuhan. Habel membawa kambing dombanya dan membawa domba muda yang lahir pertama, yang tidak cacat.
Tuhan sangat senang dengan persembahan Habel. Karena TUhan melihat Habel ingin sekali menyenangkan Tuhan dengan membawa persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Kain marah, karena Tuhan tidak menerima persembahannya. Mukanya muram dan hatinya panas.
Padahal Tuhan mau menghibur Kain, Tuhan tetap mengasihi Kain. Tetapi hati Kain dipenuhi kebencian terhadap adiknya, Habel. Kain pikir, Tuhan lebih mengasihi Habel daripada dirinya. Kain menyusun siasat untuk membunuh Habel, Kain tidak perduli dengan suara Tuhan itu.
Suatu hari, Kain mengajak Habel untuk jalan-jalan ke padang. Habel sama sekali tidak curiga akan niat jahat Kain tersebut. Dengan senang hati Habel pergi bersama dengan Kain.
“Habel, yuk kita jalan-jalan, hayolah temeni aku”
“Ayo”
Waktu mereka berjalan, Kain sudah mulai berawas-awas, celingak-celinguk, lihat ke sana ke sini, apakah ada orang. Ketika dilihatnya tidak ada orang, kemudian diambilnya batu dan “dug… dug..”.
“Auww… Bang apa yang kau lakukan… Akhhh…”. Teriak Habel sampai ia mati. Kain membunuh adiknya itu.
Kemudian Tuhan Allah mendapati Kain sedang bekerja di bawah sinar matahari, “Kain…, mana adikmu?”.
“Mana aku tau Tuhan. Emangnya aku penjaga adikku?” jawab Kain kepada Tuhan. Tetapi Tuhan mengetahui perbuatan jahat yang telah diperbuat Kain.
“Aku melihat darah adikmu. Kamu telah menumpahkan darah adikmu, tanah tidak akan memberimu panen lagi. Kamu akan mengembara untuk mendapatkan makananmu”, kata Tuhan.
“Tuhan, kenapa hukumannya terlalu berat bagiku? Nanti orang pasti akan membunuhku kalau mereka tau perbuatanku. Aku nanti akan selalu berlari”, seru Kain.
"Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kata Tuhan. Kemudian Tuhan memberi ‘tanda’ untuk melindungi Kain supaya tidak ada yang boleh membunuh Kain.
Kain bersedih, Kain harus berpisah dari keluarga dan rumahnya. Karena kejahatan yang dilakukan Kain, Adam dan Hawa bukan saja kehilangan Habel tetapi harus kehilangan 2 anak sekaligus.
Hal terburuknya adalah Tuhan tidak lagi bisa bercakap-cakap dengan Tuhan. Kain harus tinggal jauh dari keluarga dan tinggal di tanah Nod. Andai saja Kain mendengarkan suara Tuhan…
Monday, May 25, 2009
Bayi Musa
Musa seorang bayi lelaki kecil. Ibunya mengasihi dia dan memeluk dia. Ayahnya mengasihi dia dsan dia mengusap pipinya yang gemuk. Kakaknya Miryam, mengasihi dia dan menyanyikan lagu-lagu gembira kepadanya. Saudaranya laki-laki mengasihi dia dan menggelitik jari kakinya. Tidak pernah seorang bayi lebih dikasihi daripada bayi Musa.
Teteapi raja di tempat Musa tinggal adalah seorang yang jahat. Ia bertitah kepada para pembantunya, "Buangkanlah semua bayi laki-laki ke dalam sungai."
"Oh tidak...tidak!" Kata Ibu, serta lebih mendekap Bayi Musa. "Kita tidak akan membiarkan seorangpun membuangkan bayi kita ke dalam sungai", kata Bapa. "Tidak, sekali-kali jangan!" Kata Miryam. Saudara laki-laki yang masih kecil menggelengkan kepalanya, "Tidak!"
"Kita akan menyembunyikan bayi kita", kata Ibu. Tetapi Bayi Musa tidak suka disembunyikan sepanjang hari - ia menangis dan menangis. Miryam kuatir jangan-jangan serdadu-serdadu raja mendengarkannya. "Sy! Sy! Adik Musa", bisiknya, tetapi makin keras saja ia menangis. "Oh, apakah yang dapat saya perbuat?" Tanya Miryam.
Pagi-pagi benar keesokan harinya - begitu pagi sehingga saudara laki-laki yang masih kecil belum bangun - Ibu dan Miryam membawa perahu kecil itu dengan Bayi Musa di dalamnya ke sungai. Mereka mengapungkannya di atas air.
Rumput-rumput yang tinggi menahan sehingga perahu keranjang itu tidak hanyut. Ibu meninggalkan Miryam untuk menjaganya sementara ia pulang ke rumah dan berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan bayinya. Matahari bersinar dengan teriknya. Angin sepoi-sepoi berhembus silir semilir$ air mengayunkan perahu kecil itu. Bayi Musa suka diayun-ayunkan. Ia tertidur nyenyak.
Miryam bersembunyi di semak-semak di tepi sungai. Ia memperhatikan perahu keranjang itu yang berayun-ayun kian kemari di atas air. Tetapi dengar! Ada org sedang datang. Oh! Oh! Oh! Itulah puteri raja dengan dayang-dayangnya yang datang mandi di sungai. Apakah ia akan melihat perahu kecil itu? Apakah ia akan melemparkan Bayi Musa ke dalam sungai?
Puteri raja datang lebih dekat dan lebih dekat lagi. Ia berhenti di tepi sungai dan menunjuk kepada perahu kecil itu. "Pergi", katanya kepada seorang dayang, "Pergi ambil dan bawa keranjang itu kepada saya". Puteri raja mengangkat penutupnya. "Oh, alangkah manisnya bayi ini!" katanya. "Saya ingin mengambil dia sebagai anakku".
Miryam datang berlari-lari. Ia menundukkan dirinya kepada puteri raja. "Bolehkah saya pergi pergi mencari seorang pengasuh untuk bayi itu?"
"Ya, kata puteri raja, pergilah cari seorang pengasuh untuk memelihara bayi itu bagiku". Miryam menundukkan dirinya sekali lagi, dan kemudian berlari ke rumah secepat-cepatnya.
"Ibu...ibu! Mari, mari! Puteri raja menemukan bayi Musa. Ia memerlukan seorang pengasuh baginya. Ia menyukai bayi kita. Ia tidak sampai hati melihat orang melemparkannya ke dalam sungai.
Ibu dan miryam pergi cepat-cepat ke sungai. Di sanalah puteri raja berdiri memeluk bayi Musa. Bayi itu sedang menangis - ia takut akan wanita yang asing baginya. "Bawalah bayi itu dan peliharalah dia bagiku, aku akan membayar upah kepadamu", kata puteri raja. Ibu mengulurkan. Tangannya utk menerima bayi itu. Bayi Musa tersenyum dan mengangkat tangannya. Puteri raja berkata kepada ibu, "Peliharalah bayi itu bagiku sampai ia sudah besar".
Ibu mengambil Bayi Musa, dan mulai mendaki pulang. Ia bergembira membawa bayinya ke rumah. Sekarang ia tidak usah memnyembunyikannya lagi. Miryam amat bergembira sehingga ia melompat-lompat dan menyanyi-nyanyi. Bayi Musa tertawa dan mendehem. Ia bergembira juga. Ayah dan saudara Musa sedang menantikan mereka. Saudaranya laki-laki yang masih kecil itu melompat-lompat dan melambai-lambai.
Ketika semuanya sudah kembali ke rumah dengan selamat, mereka berlutut dan berdoa di sekeliling buaian bayi Musa -- Ayah, ibu, Miryam dan saudaranya yg masih kecil. Ayah berdoa, "Syukur kepadaMu ya Allah, karna telah menyelamatkan bayi kami".
Teteapi raja di tempat Musa tinggal adalah seorang yang jahat. Ia bertitah kepada para pembantunya, "Buangkanlah semua bayi laki-laki ke dalam sungai."
"Oh tidak...tidak!" Kata Ibu, serta lebih mendekap Bayi Musa. "Kita tidak akan membiarkan seorangpun membuangkan bayi kita ke dalam sungai", kata Bapa. "Tidak, sekali-kali jangan!" Kata Miryam. Saudara laki-laki yang masih kecil menggelengkan kepalanya, "Tidak!"
"Kita akan menyembunyikan bayi kita", kata Ibu. Tetapi Bayi Musa tidak suka disembunyikan sepanjang hari - ia menangis dan menangis. Miryam kuatir jangan-jangan serdadu-serdadu raja mendengarkannya. "Sy! Sy! Adik Musa", bisiknya, tetapi makin keras saja ia menangis. "Oh, apakah yang dapat saya perbuat?" Tanya Miryam.
Pagi-pagi benar keesokan harinya - begitu pagi sehingga saudara laki-laki yang masih kecil belum bangun - Ibu dan Miryam membawa perahu kecil itu dengan Bayi Musa di dalamnya ke sungai. Mereka mengapungkannya di atas air.
Rumput-rumput yang tinggi menahan sehingga perahu keranjang itu tidak hanyut. Ibu meninggalkan Miryam untuk menjaganya sementara ia pulang ke rumah dan berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan bayinya. Matahari bersinar dengan teriknya. Angin sepoi-sepoi berhembus silir semilir$ air mengayunkan perahu kecil itu. Bayi Musa suka diayun-ayunkan. Ia tertidur nyenyak.
Miryam bersembunyi di semak-semak di tepi sungai. Ia memperhatikan perahu keranjang itu yang berayun-ayun kian kemari di atas air. Tetapi dengar! Ada org sedang datang. Oh! Oh! Oh! Itulah puteri raja dengan dayang-dayangnya yang datang mandi di sungai. Apakah ia akan melihat perahu kecil itu? Apakah ia akan melemparkan Bayi Musa ke dalam sungai?
Puteri raja datang lebih dekat dan lebih dekat lagi. Ia berhenti di tepi sungai dan menunjuk kepada perahu kecil itu. "Pergi", katanya kepada seorang dayang, "Pergi ambil dan bawa keranjang itu kepada saya". Puteri raja mengangkat penutupnya. "Oh, alangkah manisnya bayi ini!" katanya. "Saya ingin mengambil dia sebagai anakku".
Miryam datang berlari-lari. Ia menundukkan dirinya kepada puteri raja. "Bolehkah saya pergi pergi mencari seorang pengasuh untuk bayi itu?"
"Ya, kata puteri raja, pergilah cari seorang pengasuh untuk memelihara bayi itu bagiku". Miryam menundukkan dirinya sekali lagi, dan kemudian berlari ke rumah secepat-cepatnya.
"Ibu...ibu! Mari, mari! Puteri raja menemukan bayi Musa. Ia memerlukan seorang pengasuh baginya. Ia menyukai bayi kita. Ia tidak sampai hati melihat orang melemparkannya ke dalam sungai.
Ibu dan miryam pergi cepat-cepat ke sungai. Di sanalah puteri raja berdiri memeluk bayi Musa. Bayi itu sedang menangis - ia takut akan wanita yang asing baginya. "Bawalah bayi itu dan peliharalah dia bagiku, aku akan membayar upah kepadamu", kata puteri raja. Ibu mengulurkan. Tangannya utk menerima bayi itu. Bayi Musa tersenyum dan mengangkat tangannya. Puteri raja berkata kepada ibu, "Peliharalah bayi itu bagiku sampai ia sudah besar".
Ibu mengambil Bayi Musa, dan mulai mendaki pulang. Ia bergembira membawa bayinya ke rumah. Sekarang ia tidak usah memnyembunyikannya lagi. Miryam amat bergembira sehingga ia melompat-lompat dan menyanyi-nyanyi. Bayi Musa tertawa dan mendehem. Ia bergembira juga. Ayah dan saudara Musa sedang menantikan mereka. Saudaranya laki-laki yang masih kecil itu melompat-lompat dan melambai-lambai.
Ketika semuanya sudah kembali ke rumah dengan selamat, mereka berlutut dan berdoa di sekeliling buaian bayi Musa -- Ayah, ibu, Miryam dan saudaranya yg masih kecil. Ayah berdoa, "Syukur kepadaMu ya Allah, karna telah menyelamatkan bayi kami".
Subscribe to:
Posts (Atom)