Kejadian 4:1-16
Tuhan mengirimkan Adam dan Hawa pada suatu taman, namanya Taman Eden. Tapi sayangnyaa.. mereka harus bekerja untuk makanan yang akan mereka makan dan pakaian yang akan mereka pakai. Tuhan hanya menyediakan taman saja.
Oleh karena kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, semua anak- cucu keturunan Adam dan Hawa juga harus bekerja untuk makanan dan pakaian mereka. Walaupun demikian Tuhan mengasihi kita lebih dari apa yang kita tau, dan berkatNya selalu beserta kita.
Karena dosa juga maka kita akan mengahadapi masalah-masalah dalam hidup, kadang masalah yang besar, kadang-kadang masalah kecil juga. Dosa selalu membawa masalah. Makanya… kita jangan berbuat dosa lagi ya!
Walaupun Adam dan Hawa telah berdosa, Tuhan tetep mengasihi mereka dan Tuhan memberikan seorang bayi kepada mereka. Mmm…. Waktu Hawa melahirkan, ga ditolongin ama dokter dan suster (hehe… tentu saja karna dokter dan suster blum lahir…hihihihi). Tuhan sendiri yang jadi bidannya.
Hwaaahh…. Uekkk…ooooeekkk…. Bayi pertama lahir, seorang anak laki-laki yang ganteng diberi nama Kain. Dan beberapa tahun kemudian seorang bayi laki-laki lagi lahir, diberi nama Habel. Mereka bertumbuh dan menjadi dewasa. Kain, si abang, menjadi petani dan si adik, Habel menjadi gembala kambing dan domba.
Suatu hari, Kain ingin bersyukur kepada Tuhan dan membawa persembahannya kepada Tuhan seperti hasil bumi, seperti padi, gandum, dll. Persembahan adalah suatu pemberian yang kita bawa kepada Tuhan, sesuatu yang terbaik yang kita suka, yang paling kita jaga karna sangat berharga bagi kita. Tentu saja persembahan adalah sesuatu yang terbaik dari yang kita punya.
Habel juga membawa persembahannya kepada Tuhan. Habel membawa kambing dombanya dan membawa domba muda yang lahir pertama, yang tidak cacat.
Tuhan sangat senang dengan persembahan Habel. Karena TUhan melihat Habel ingin sekali menyenangkan Tuhan dengan membawa persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Kain marah, karena Tuhan tidak menerima persembahannya. Mukanya muram dan hatinya panas.
Padahal Tuhan mau menghibur Kain, Tuhan tetap mengasihi Kain. Tetapi hati Kain dipenuhi kebencian terhadap adiknya, Habel. Kain pikir, Tuhan lebih mengasihi Habel daripada dirinya. Kain menyusun siasat untuk membunuh Habel, Kain tidak perduli dengan suara Tuhan itu.
Suatu hari, Kain mengajak Habel untuk jalan-jalan ke padang. Habel sama sekali tidak curiga akan niat jahat Kain tersebut. Dengan senang hati Habel pergi bersama dengan Kain.
“Habel, yuk kita jalan-jalan, hayolah temeni aku”
“Ayo”
Waktu mereka berjalan, Kain sudah mulai berawas-awas, celingak-celinguk, lihat ke sana ke sini, apakah ada orang. Ketika dilihatnya tidak ada orang, kemudian diambilnya batu dan “dug… dug..”.
“Auww… Bang apa yang kau lakukan… Akhhh…”. Teriak Habel sampai ia mati. Kain membunuh adiknya itu.
Kemudian Tuhan Allah mendapati Kain sedang bekerja di bawah sinar matahari, “Kain…, mana adikmu?”.
“Mana aku tau Tuhan. Emangnya aku penjaga adikku?” jawab Kain kepada Tuhan. Tetapi Tuhan mengetahui perbuatan jahat yang telah diperbuat Kain.
“Aku melihat darah adikmu. Kamu telah menumpahkan darah adikmu, tanah tidak akan memberimu panen lagi. Kamu akan mengembara untuk mendapatkan makananmu”, kata Tuhan.
“Tuhan, kenapa hukumannya terlalu berat bagiku? Nanti orang pasti akan membunuhku kalau mereka tau perbuatanku. Aku nanti akan selalu berlari”, seru Kain.
"Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kata Tuhan. Kemudian Tuhan memberi ‘tanda’ untuk melindungi Kain supaya tidak ada yang boleh membunuh Kain.
Kain bersedih, Kain harus berpisah dari keluarga dan rumahnya. Karena kejahatan yang dilakukan Kain, Adam dan Hawa bukan saja kehilangan Habel tetapi harus kehilangan 2 anak sekaligus.
Hal terburuknya adalah Tuhan tidak lagi bisa bercakap-cakap dengan Tuhan. Kain harus tinggal jauh dari keluarga dan tinggal di tanah Nod. Andai saja Kain mendengarkan suara Tuhan…
Tuesday, June 9, 2009
Monday, May 25, 2009
Bayi Musa
Musa seorang bayi lelaki kecil. Ibunya mengasihi dia dan memeluk dia. Ayahnya mengasihi dia dsan dia mengusap pipinya yang gemuk. Kakaknya Miryam, mengasihi dia dan menyanyikan lagu-lagu gembira kepadanya. Saudaranya laki-laki mengasihi dia dan menggelitik jari kakinya. Tidak pernah seorang bayi lebih dikasihi daripada bayi Musa.
Teteapi raja di tempat Musa tinggal adalah seorang yang jahat. Ia bertitah kepada para pembantunya, "Buangkanlah semua bayi laki-laki ke dalam sungai."
"Oh tidak...tidak!" Kata Ibu, serta lebih mendekap Bayi Musa. "Kita tidak akan membiarkan seorangpun membuangkan bayi kita ke dalam sungai", kata Bapa. "Tidak, sekali-kali jangan!" Kata Miryam. Saudara laki-laki yang masih kecil menggelengkan kepalanya, "Tidak!"
"Kita akan menyembunyikan bayi kita", kata Ibu. Tetapi Bayi Musa tidak suka disembunyikan sepanjang hari - ia menangis dan menangis. Miryam kuatir jangan-jangan serdadu-serdadu raja mendengarkannya. "Sy! Sy! Adik Musa", bisiknya, tetapi makin keras saja ia menangis. "Oh, apakah yang dapat saya perbuat?" Tanya Miryam.
Pagi-pagi benar keesokan harinya - begitu pagi sehingga saudara laki-laki yang masih kecil belum bangun - Ibu dan Miryam membawa perahu kecil itu dengan Bayi Musa di dalamnya ke sungai. Mereka mengapungkannya di atas air.
Rumput-rumput yang tinggi menahan sehingga perahu keranjang itu tidak hanyut. Ibu meninggalkan Miryam untuk menjaganya sementara ia pulang ke rumah dan berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan bayinya. Matahari bersinar dengan teriknya. Angin sepoi-sepoi berhembus silir semilir$ air mengayunkan perahu kecil itu. Bayi Musa suka diayun-ayunkan. Ia tertidur nyenyak.
Miryam bersembunyi di semak-semak di tepi sungai. Ia memperhatikan perahu keranjang itu yang berayun-ayun kian kemari di atas air. Tetapi dengar! Ada org sedang datang. Oh! Oh! Oh! Itulah puteri raja dengan dayang-dayangnya yang datang mandi di sungai. Apakah ia akan melihat perahu kecil itu? Apakah ia akan melemparkan Bayi Musa ke dalam sungai?
Puteri raja datang lebih dekat dan lebih dekat lagi. Ia berhenti di tepi sungai dan menunjuk kepada perahu kecil itu. "Pergi", katanya kepada seorang dayang, "Pergi ambil dan bawa keranjang itu kepada saya". Puteri raja mengangkat penutupnya. "Oh, alangkah manisnya bayi ini!" katanya. "Saya ingin mengambil dia sebagai anakku".
Miryam datang berlari-lari. Ia menundukkan dirinya kepada puteri raja. "Bolehkah saya pergi pergi mencari seorang pengasuh untuk bayi itu?"
"Ya, kata puteri raja, pergilah cari seorang pengasuh untuk memelihara bayi itu bagiku". Miryam menundukkan dirinya sekali lagi, dan kemudian berlari ke rumah secepat-cepatnya.
"Ibu...ibu! Mari, mari! Puteri raja menemukan bayi Musa. Ia memerlukan seorang pengasuh baginya. Ia menyukai bayi kita. Ia tidak sampai hati melihat orang melemparkannya ke dalam sungai.
Ibu dan miryam pergi cepat-cepat ke sungai. Di sanalah puteri raja berdiri memeluk bayi Musa. Bayi itu sedang menangis - ia takut akan wanita yang asing baginya. "Bawalah bayi itu dan peliharalah dia bagiku, aku akan membayar upah kepadamu", kata puteri raja. Ibu mengulurkan. Tangannya utk menerima bayi itu. Bayi Musa tersenyum dan mengangkat tangannya. Puteri raja berkata kepada ibu, "Peliharalah bayi itu bagiku sampai ia sudah besar".
Ibu mengambil Bayi Musa, dan mulai mendaki pulang. Ia bergembira membawa bayinya ke rumah. Sekarang ia tidak usah memnyembunyikannya lagi. Miryam amat bergembira sehingga ia melompat-lompat dan menyanyi-nyanyi. Bayi Musa tertawa dan mendehem. Ia bergembira juga. Ayah dan saudara Musa sedang menantikan mereka. Saudaranya laki-laki yang masih kecil itu melompat-lompat dan melambai-lambai.
Ketika semuanya sudah kembali ke rumah dengan selamat, mereka berlutut dan berdoa di sekeliling buaian bayi Musa -- Ayah, ibu, Miryam dan saudaranya yg masih kecil. Ayah berdoa, "Syukur kepadaMu ya Allah, karna telah menyelamatkan bayi kami".
Teteapi raja di tempat Musa tinggal adalah seorang yang jahat. Ia bertitah kepada para pembantunya, "Buangkanlah semua bayi laki-laki ke dalam sungai."
"Oh tidak...tidak!" Kata Ibu, serta lebih mendekap Bayi Musa. "Kita tidak akan membiarkan seorangpun membuangkan bayi kita ke dalam sungai", kata Bapa. "Tidak, sekali-kali jangan!" Kata Miryam. Saudara laki-laki yang masih kecil menggelengkan kepalanya, "Tidak!"
"Kita akan menyembunyikan bayi kita", kata Ibu. Tetapi Bayi Musa tidak suka disembunyikan sepanjang hari - ia menangis dan menangis. Miryam kuatir jangan-jangan serdadu-serdadu raja mendengarkannya. "Sy! Sy! Adik Musa", bisiknya, tetapi makin keras saja ia menangis. "Oh, apakah yang dapat saya perbuat?" Tanya Miryam.
Pagi-pagi benar keesokan harinya - begitu pagi sehingga saudara laki-laki yang masih kecil belum bangun - Ibu dan Miryam membawa perahu kecil itu dengan Bayi Musa di dalamnya ke sungai. Mereka mengapungkannya di atas air.
Rumput-rumput yang tinggi menahan sehingga perahu keranjang itu tidak hanyut. Ibu meninggalkan Miryam untuk menjaganya sementara ia pulang ke rumah dan berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan bayinya. Matahari bersinar dengan teriknya. Angin sepoi-sepoi berhembus silir semilir$ air mengayunkan perahu kecil itu. Bayi Musa suka diayun-ayunkan. Ia tertidur nyenyak.
Miryam bersembunyi di semak-semak di tepi sungai. Ia memperhatikan perahu keranjang itu yang berayun-ayun kian kemari di atas air. Tetapi dengar! Ada org sedang datang. Oh! Oh! Oh! Itulah puteri raja dengan dayang-dayangnya yang datang mandi di sungai. Apakah ia akan melihat perahu kecil itu? Apakah ia akan melemparkan Bayi Musa ke dalam sungai?
Puteri raja datang lebih dekat dan lebih dekat lagi. Ia berhenti di tepi sungai dan menunjuk kepada perahu kecil itu. "Pergi", katanya kepada seorang dayang, "Pergi ambil dan bawa keranjang itu kepada saya". Puteri raja mengangkat penutupnya. "Oh, alangkah manisnya bayi ini!" katanya. "Saya ingin mengambil dia sebagai anakku".
Miryam datang berlari-lari. Ia menundukkan dirinya kepada puteri raja. "Bolehkah saya pergi pergi mencari seorang pengasuh untuk bayi itu?"
"Ya, kata puteri raja, pergilah cari seorang pengasuh untuk memelihara bayi itu bagiku". Miryam menundukkan dirinya sekali lagi, dan kemudian berlari ke rumah secepat-cepatnya.
"Ibu...ibu! Mari, mari! Puteri raja menemukan bayi Musa. Ia memerlukan seorang pengasuh baginya. Ia menyukai bayi kita. Ia tidak sampai hati melihat orang melemparkannya ke dalam sungai.
Ibu dan miryam pergi cepat-cepat ke sungai. Di sanalah puteri raja berdiri memeluk bayi Musa. Bayi itu sedang menangis - ia takut akan wanita yang asing baginya. "Bawalah bayi itu dan peliharalah dia bagiku, aku akan membayar upah kepadamu", kata puteri raja. Ibu mengulurkan. Tangannya utk menerima bayi itu. Bayi Musa tersenyum dan mengangkat tangannya. Puteri raja berkata kepada ibu, "Peliharalah bayi itu bagiku sampai ia sudah besar".
Ibu mengambil Bayi Musa, dan mulai mendaki pulang. Ia bergembira membawa bayinya ke rumah. Sekarang ia tidak usah memnyembunyikannya lagi. Miryam amat bergembira sehingga ia melompat-lompat dan menyanyi-nyanyi. Bayi Musa tertawa dan mendehem. Ia bergembira juga. Ayah dan saudara Musa sedang menantikan mereka. Saudaranya laki-laki yang masih kecil itu melompat-lompat dan melambai-lambai.
Ketika semuanya sudah kembali ke rumah dengan selamat, mereka berlutut dan berdoa di sekeliling buaian bayi Musa -- Ayah, ibu, Miryam dan saudaranya yg masih kecil. Ayah berdoa, "Syukur kepadaMu ya Allah, karna telah menyelamatkan bayi kami".
Subscribe to:
Posts (Atom)